Kota Makassar

Tahanan Balai LHK Sulawesi Pindah Tanpa Sepengetahuan Karutan Makassar

293

MAKASSAR — Salah seorang tahanan yang sebelumnya ditetapkan tersangka oleh Gakkum LHK Sulawesi dan dijebloskan ke rutan Makassar hingga dipindahkan ke Tanah Toraja, ternyata tanpa sepengetahuan Kepala Rutan.

Sulistyadi yang resmi menjabat sebagai Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Gunung Sari Makassar, Sulsel di awal Januari 2020, saat dikonfirmasi ternyata tidak mengetahui pindahan tahanan yang bernama JP yang menjadi Tahanan balai LHK Sulawesi.

“Dipindah dari mana kemana daeng, karena seingat saya, kami belum pernah memindahkan ke tator daeng”, tulis Sulistyadi beberapa waktu lalu melalui pesan elektronik (18/3/2020).

Saat dikonfirmasi langsung diruang kerjanya (24/3/2020), Karutan membenarkan bahwa pemindahan tahanan JP dari rutan Makassar tanpa sepengetahuannya.

Salah satu pegawai LHK Sulawesi mengaku tidak mengetahui peristiwa tersebut. “Coba kita konfirmasi langsung sama ketua tim penyidik”, ujar seorang pegawai (25/3/2020).

Untuk diketahui, JP ditangkap oleh tim Gakkum balai LHK pasca terkait penangkapan sebuah mobil yang bermuatan kayu beberapa waktu lalu di tanah toraja.

Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Saddang ll Toraja Utara, melakukan penangkapan kayu ilegal di Pangli Lambe karena menggunakan dokumen palsu.

Kayu yang disita kurang lebih 10 Kubik, diantaranya papan, balok dan tiang. Penangkapan tersebut dilakukan oleh Gakum bersama dengan KPH Saddang ll Pada hari Jumat, 17 Januari 2020 lalu.

Pasca penangkapan kayu, JP yang mendatangi Balai LHK Sulawesi mengakui keterlibatannya. Hal ini telah disampaikan oleh salah satu personil Gakkum.

Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu oleh awak media sewaktu JP berada di rumah tahanan Makassar, mengatakan jika dirinya hanyalah seorang pengantar dokumen, pemilik kayu adalah IB, pemilik mobil AD dan pembuat dokumen adalah AE. Meskipun begitu, Penyidik Gakkum bersikukuh bahwa JP adalah penanggungjawab.

Sementara orang tua JP saat dikonfirmasi mengatakan jika penahanan JP dari Januari 2020. “Kalau tidak salah, anakku mulai ditahan 21 Januari 2020 dirutan Makassar”, ujarnya. (Albar)

Komentar

loading...