Kabupaten Pinrang

Tak Takut Presiden, Kades Massewae Pinrang Parangi Anggota PWI

637

Pinrang — Kepala Desa (Kades) Massewae, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, mengamuk hingga mengejar wartawan menggunakan parang.

Kades Masewae menyerang Andi Ramli, salah seorang jurnalis dari media Tabloid Sidak dan Zona Tipikor saat hendak meminta klarifikasi terkait proyek di desa itu.

Kades Massewae menyerang Wartawan yang tergabung dalam organisasi PWI Sulsel. Bukannya mendapat informasi, malah mendapat perlakuan sikap tak terpuji, yang seharusnya tidak dilakukan dari Kades tersebut.

Dihadapan petugas Babinsa dan Kepala Dusun, yang jadi tontonan warga setempat, belum lama ini, tidak elok dari sikap seorang Kades Massewae

“Jangankan Kapolres, Dandim dan Kejaksaan, Presiden pun saya tidak takut,” tiru Ramli, dengan ucapan yang dilontarkan Kades Massewae.

Dihadapan Bhabinsa, Kadus dan warganya, Ibrahim bahkan nekat membabi buta melayangkan beberapa kali pukulan ke wartawan namun tak berhasil mengenai korban.

Kesal lantaran pukulan yang dilayangkan tak berhasil mengenai korban, emosi sang Kades di ujung tanduk, kemudian keluar dari kantor dan mengambil sebilah parang yang berada di mobilnya.

Kades mengejar dan menebas wartawan tersebut, namun masih saja tak berhasil mengenai tubuh korban.

“Bahkan dia menebas saya enam kali, tapi parangnya tidak sampai melukai tubuh saya.” alih Ramli dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Selasa (26/5/2020)

Menurutnya, ini Kuasa Tuhan, hingga tebasan pertama yang dilakukan Pak Desa itu meleset, justru melukai tangan Bhabinsa setempat.
Hingga melayangkan tebasan keempat, masih saja tak berhasil mengenai tubuh korban (wartawan red-).

“Pada tebasan kelima, Pak desa justru hampir mengenai dirinya sendiri. Semua itu kuasa Allah,” tutur Ramli.

Ramli menyayangkan sikap Kades Massewae, Ibrahim yang arogan dan tidak menghargai wartawan termasuk Bhabinsa dan Kepala Dusunnya yang ada pada saat kejadian itu.

”Saya tidak melawan pak, saya datang baik baik sebagai wartawan. Sebelum masuk saya mengucapkan salam sampai tiga kali, tapi pak desa itu tidak menjawab,” bebernya.

“Sikap tidak senang pak desa terlihat diwajahnya saat saya ada di kantornya. Kendatipun Id Card saya melekat dan tergantung di leher, saya memperkenalkan diri sebagai wartawan namun dia tidak respon”

“Bahkan saat pak desa menerima telepon. Sebagai pewarta, saya rela menunggu dengan tenang untuk wawancara,”

“Saya tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu, saya hampir mati diparangi pak desa, pak desa memang ingin membunuh saya” kata Ramli saat menceritakan
Atas kejadian ini, Ramli melaporkan oknum Kepala Desa Massewae atas dugaan penyerangan terhadap dirinya ke polisi.

Sementara itu, Ketua PWI Pinrang, Masrul Umar, mengecam keras atas tindakan Kades Massewae, Ibrahim.
Sikap pak desa itu tidak bisa dibiarkan sebagai seorang pemimpin seharusnya Ibrahim menjadi contoh teladan.
Dalam melaksanakan tugas.

Wartawan itu dilindungi UUD.Pers.No 40 tahun 1999. Tentang kebebasan pers. Masrul menyayangkan karena kejadian itu terjadi di depan Bhabinsa dan Kepala Dusun.

“Kami berharap pihak kepolisian sigap dan profesional menindak lanjuti pelaporan korban, agar kedepan tidak terulang lagi kasus yang sama terhadap wartawan selaku mitra polri.”paparnya.

Selain KHUP kata Masrul, terlapor juga melanggar UU tentang kebebasan Pers.

Terpisah, Kapolsek Duampanua AKP Marjoko yang ditemui wartawan terkait kejadian tersebut, Selasa (26/5/2020) sedang tidak berada di kantor, saat dihubungi via telepon tidak diangkat.

Komentar

loading...