Siswi SMA Di Gowa SulSel Ini Rekam Dirinya Minum Racun, Diduga Depresi dengan Sekolah Online

76
Siswi SMA Di Gowa SulSel Ini Rekam Dirinya Minum Racun, Diduga Depresi Dengan Sekolah Online.

Gowa – Sulawesi Selatan. Seorang siswi SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan berinisial MI berusia 16 tahun nekat bunuh diri dengan meminum racun rumput, Sabtu 17 Oktober 2020.

Korban diduga bunuh diri karena depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolah.

Sebelumnya, korban kerap bercerita pada teman-temannya perihal sulitnya akses internet di kampung.
“Sulitnya akses internet di rumahnya menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk” ucap teman korban.

Mirisnya, MI merekam aksi bunuh dirinya dalam sebuah video.
Rekaman ponsel berdurasi 32 detik itu menunjukkan detik-detik ketika korban meminum racun rumput.

Siswi SMA Di Gowa SulSel Ini Rekam Dirinya Minum Racun, Diduga Depresi dengan Sekolah Online 1
Racun yang ditemukan polisi di dekat tubuh siswi SMA di Kabupaten Gowa, Sulsel

“Mengerikan” ungkap Muhammad Ramli Rahim, Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia.

Stres yang dialami siswa/siswi akibat pembelajaran jarak jauh yang tidak memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa/siswi tersebut.

“Dari sisi tugas-tugas dari guru telah mengakibatkan depresi terhadap siswa/siswi, yang akhirnya dapat berujung pada kejadian bunuh diri seperti ini,” ungkap Ramli.

Ramli juga mengatakan jikalau jumlah mata pelajaran yang sangat banyak. Ditambah dengan mudahnya guru memberikan tugas kepada siswa dan siswinya menjadi beban yang begitu berat bagi mereka.

Sebanyak 14 sampai 16 mata pelajaran tentu bukan sesuatu yang mudah. Apalagi dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai.

Ikatan Guru Indonesia sejak awal sudah meminta pemerintah pusat dan Mendikbud Nadiem Makarim, bahwa beban mata pelajaran yang dialami oleh siswa sesungguhnya menjadi masalah utama rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun hingga saat ini, upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu.

Nadiem Makarim seolah tidak punya formula untuk menuntaskan masalah jumlah mata pelajaran yang sangat membebani anak didik di Indonesia.

Standar penugasan oleh guru juga tidak diatur, baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Provinsi maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Bisa dibayangkan jika setiap guru memberikan satu saja tugas setiap minggu. Maka setiap siswa akan mendapatkan 14-16 tugas yang harus dituntaskan sebelum mata pelajaran dilanjutkan minggu depannya.

Memang guru sangat mudah memberikan tugas, apalagi mereka saat ini dengan dukungan LMS tak perlu tampil di depan kelas lagi.

Cukup memberikan tugas lewat LMS yang ada, tetapi mereka tidak memperhitungkan secara komprehensif beban tugas yang diberikan ke siswa tersebut.

Kejadian bunuh diri oleh salah satu siswi di kabupaten Gowa ini seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah.

Dengan tegas memperingatkan pemerintah bahwa masalah penugasan-penugasan ini adalah sesuatu yang sangat serius memberikan dampak depresi kepada siswa/siswi.

Seharusnya kepala sekolah dan para guru konseling mampu mengetahui dan mengukur beban yang dialami oleh siswa dan siswi.

Akibat banyaknya penugasan yang dilakukan guru di suatu sekolah terhadap 1 siswa/siswi.
Sehingga bisa menjadi standar bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk memberikan penugasan kepada siswa dan siswinya.

Setiap daerah seharusnya mempertimbangkan kemampuan jaringan internet di daerahnya.
Ketersediaan alat, baik berupa smartphone maupun laptop dan komputer didaerah tersebut yang dimiliki oleh siswanya.

Kemudian mempertimbangkan kemampuan ekonomi siswa dan orangtua siswa di daerah-daerah tersebut.
Sehingga pemerintah tidak berlepas tangan dengan memberikan kuota data kepada siswa saja.

“Tetapi memahami secara penuh suasana dan kondisi pembelajaran di masa pandemi Covid-19 dan semua itu seharusnya diatur dan dibuat standarnya oleh Kemendikbud,” tegas Ramli.

 

Komentar

loading...